Pemimpin bukanlah teori, tapi dia adalah insting, begitulah bahasa yang dilontarkan oleh k’ Arham saat-saat akan memulai materi “kepemimpinan”. Dalam kanca kepemimpinan harus ada persamaan persepsi dan keinginan antara yang dipimpin dan yang memimpin. Untuk mempersatukan hal diatas maka dibuatlah visi bersama dalam satu komunitas dengan cara melihat bagaimana cara pandang masing-masing pihak. Secara rasional, bagaimana pemimpin harus mampu merasionalkan atau mangambil sisi rasional dalam hal keputusan yang akan dikeluaskan dan tidak secara egois, tetapi pemimpin secarra politik, maka jalan yang harus ditempuh sebagai seorang pemimpin adalah bagaimana tujuan itu bias tercapai.
Untuk skala Indonesia belum mampu menempuh jalan rasional. Salah sati contoh : fakultas Pertsanian, jurusan budidaya pertanian Universitas Hasanuddin dalam sebuah dialog akademik, ingin membangun visi bersama. Maka untuk membangun visi tersebut maka yang harus dilihat komunitas yang tinggal, apaka ia menetap atau masyarakat yang berpindah-pindah, maka dapatlah ditentukan apakah kita bias membangun visi bersama atau tidak.
Bonisvella, Sukarno dll adalah contoh pemimpin yang mempunyai strategi dan mampu mencari ruang-ruang atau mampu menarik benang merah dari masyarakat untuk memperjuangkannya, apa yang menjadi kebutuhan bersama. Sehingga masyarakatnya siap dan mati-matian untuk memperjuangkannya rela menumpahkan darahnya demi pemimpinya.
Pemimpin yang sesungguhnya adalah pemimpin yang mengetahui, mampu menentukan mengapa kita datang, untuk apa kita datang atau untuk apa kita diciptakan. Secara structural/ the your ( landasan hokum ) bahwa pemimpin itu dipilih oleh masyarakat untuk menjalakankan struktur yang telah menjadi beban untuk disandang dan dipertanggung jawabkan, tetapi secara sosiologis itu adalah ego pemimpin, karena aturan yang dibuatnya harus dipatuhi oleh masyarakat luas dan kebebasan yang dimiliki masyarakat menjadi pudar atau dalam kepemimpinan mau tidak mau harus di patuhi karena ½ dari masyarakat sudah sepakat. Bagaimana dengan pemimpin yang didalamnya ada peramianan perasaan , karena perasaan itulah banyak mempengaruhi jatuhnya kepemimpinan, seperti yang dialami oleh persiden Amerika, persiden Inggris, akhirnya keruntuhan yang terjadi pada satu kanca kepemimpinan.
Untuk menjadi pemimpin yang baik maka strategi yang harus ditempuh adalah kita haru mapan dan tuntas di komunitas kecil dengan menentukan target bersama dan visi bersama, seperti kepemimpinan Addolf Hitler yang mapan pada kemunitas kecil sebelum menjadi pemimpin dunia dan mengandalkan kearifan local. Sebagai seorang pemimpin harus mampu melihat peluang kedepan, sebab kejadian yang terjadi itu datang dari masa depan dan bukan berasal dari masa lalu, masa lalu hanyalah sejarah dan pelajaran yang harus diperbaiki untuk mengarungi masa depan. Dalam kanca kepemimpinan apakah kita yang akan dilangaki oleh musuh atau kita yang akan melangakai musuh ( Adolf Hitler).
KEPEMIMPINAN
Labels:
Kepemimpinan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment